Bonus Demografi
Bonus Demografi, Indonesia Butuh
Lebih Banyak Pebisnis Kreatif
Kementerian
Ketenagakerjaan menyatakan, Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha yang
berorientasi kepada kreativitas dan inovasi dalam menghadapi bonus demografi
pada 2030 - 2040. Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan
(Kemnaker) Roostiawati mengatakan, jumlah penduduk yang masuk dalam angkatan
kerja sekarang 54,2 juta orang. Populasi ini selayaknya dapat menjadi aset bagi
perekonomian nasional.
"Angkatan kerja kita
kebanyakan lulusan sekolah dasar, tetapi ini bukan hambatan sebetulnya. Untuk
itu, kita harus memberikan akses lapangan kerja kepada mereka," tuturnya
dalam seminar terkait inklusivitas dunia kerja, di Jakarta, Selasa (23/10). Selain
bekerja di sektor formal, Kemnaker juga mendorong lebih banyak penduduk usia
produktif untuk berwirausaha. Oleh karena itu, rasio pembukaan lapangan kerja
yang kini baru 13% perlu ditingkatkan sebelum periode bonus demografi tiba.
Roostiawati mengutarakan,
seiring dengan upaya memperluas lapangan kerja maka kapasitas sumber daya
manusia (SDM) usia produktif juga perlu diperbaiki. "Kita membutuhkan
tenaga kerja yang kreatif dan inovatif untuk antisipasi era industri 4.0,"
ujarnya. (Baca juga: Konsep Waralaba Tak Mampu Tingkatkan Entrepreneur Baru) Co-CEO
PT Thinksmart Ide Brajendra Anantya Van Bronckhorst membenarkan bahwa inovasi
merupakan hal penting yang harus dimiliki wirausaha bidang ekonomi kreatif pada
era industri 4.0 saat ini.
"Mental juga harus
dipersiapkan. Berbisnis itu ibarat lari maraton karena ini orientasinya bisnis
jangka panjang. Harus pikirkan bagaimana inovasi 5 sampai 10 tahun ke depan.
Harus belajar terus," tuturnya. (Baca juga: Berdayakan Perempuan dan
Ekonomi Masyarakat Lewat Industri Kreatif) Modal berupa gagasan yang inovatif
tersebut sejalan dengan karakter usaha di bidang ekonomi kreatif. Fadjar Hutomo
selaku Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan,
pemerintah mengarahkan industri kreatif berkembang secara inklusif.
"Tugas kami ialah
menyediakan akses informasi dan memfasilitasi siapa saja yang ingin terjun di
industri kreatif sehingga menjadikan sektor ini inklusif. Kami sedang membawa
gagasan ekonomi kreatif yang inklusif ini ke kancah global," kata dia. Bekraf
mengimbau kepada para pelaku usaha kreatif maupun mereka yang baru merintis
agar mematangkan rencana bisnis jangka panjang. Fadjar menekankan, business
plan yang dibuat harus memuat soal keunikan produk maupun jasa yang hendak
dipasarkan. (Baca juga: Perkuat Modal, Bekraf Ajak Startup Industri Kreatif
Melantai di Bursa) Sementara itu, Rex Marindo selaku Direktur Pemasaran PT
Citrarasaprima Indonesia Berjaya berpendapat, pemerintah selayaknya tak sekadar
mengedukasi agar lebih banyak penduduk usia produktif berwirausaha.
"Tugasnya juga memberi peluang mereka," kata dia.
Pendiri merek kuliner
Warunk Upnormal tersebut berpesan agar pebisnis pemula tidak hanya memiliki
komitmen bekerja keras. Aspek penting lain adalah kolaborasi alias membentuk
tim yang saling melengkapi serta terus mengembangkan diri. (Baca juga: Bekraf
Pertemukan Startup Kuliner dengan Investor, Raih Rp 7 Miliar) Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) melansir bahwa Indonesia akan mengalami bonus
demografi pada 2030 - 2040. Artinya, jumlah penduduk usia produktif (15 - 64
tahun) lebih banyak daripada yang tak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas
64 tahun).
Jumlah penduduk usia
produktif pada periode tersebut diprediksi mencapai 64% dari total populasi
yang diproyeksikan mencapai 297 juta jiwa. Supaya Indonesia dapat memetik
manfaat dari bonus demografi maka ketersediaan SDM usia produktif harus diimbangi
dengan peningkatan pendidikan dan keterampilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar