3.1 Sejarah Televisi Digital dan Televisi Analog
Dewasa kini televisi yang sering kita temui adalah televisi dengan kualitas gambar yang bagus dan berbagai pilihan dari masing-masing kecanggihan yang dibawa oleh setiap merknya. Dibalik semua itu tentu ada proses yang membawa televisi kini menjadi elektronik yang canggih. Dalam penemuannya, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
- 1876 - George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai sinar katoda.
- 1884 - Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.
- 1888 - Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
- 1897 - Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.
- 1900 - Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.
- 1907 - Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.
- 1927 - Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.
- 1929 - Vladimir Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.
- 1940 - Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.
- 1958 - Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan Dr. Glenn Brown.
- 1964 - Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
- 1967 - James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.
- 1968 - Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.
- 1975 - Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
- 1979 - Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
- 1981 - Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.
- 1987 - Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
- 1995 - Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
- Dekade 2000 - Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.
Sebelum membahasa mengenai perbedaan TV Analog dan Digital berikut pengertian dari keduanya :
- Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) atau penyiaran digital adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio dan data ke pesawat televisi. TV Digital bukan berarti pesawat televisinya yang digital, namun lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting). Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. TV digital memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL.
- Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee), PAL, dan SECAM.
Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap gangguan (noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code ).
B. Perbedaan Penerimaan Sinyal Televisi Digital dan Analog
- Kualitas gambar dan suara
Siaran televisi digital terestrial menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mampu mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo atau gaung yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).
Penyiaran televisi digital menawarkan kualitas gambar yang sama dengan kualitas DVD, bahkan stasiun-stasiun televisi dapat memancarkan programnya dalam format 16:9 (layar lebar) dengan standar Standard Definition (SD) maupun High Definition (HD). Kualitas suara pun mampu mencapai kualitas CD Stereo, bahkan stasiun televisi dapat memancarkan suara dengan Surround Sound (Dolby DigitalTM).
- Tahan perubahan lingkungan
Siaran televisi digital terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.
- Tahan terhadap efek interferensi
Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.
- Efisiensi spektrum/kanal
Teknologi siaran televisi digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding siaran televisi analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6, artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.
Dalam bahasa yang sederhana, ini berarti dalam satu frekuensi dapat digunakan untuk enam siaran yang berbeda. Ini jauh lebih efisien dibanding dengan siaran analog dimana satu frekuensi hanya untuk satu siaran saja. Dengan keunggulan ini, keterbatasan jumlah kanal dalam spektrum frekuensi siaran yang menjadi penghambat perkembangan industri pertelevisian di era analog dapat diatasi dan memungkinkan munculnya stasiun-stasiun televisi baru yang lebih banyak dengan program yang lebih bervariasi.
Resolusi perangkat TV Digital bisa diatur di angka 480p (SD = Standar Definition) atau bahkan di 780p atau 1080i / p yang dikenal sebagai HD atau high definition. HD memungkinkan untuk meningkatkan ukuran TV tanpa mengorbankan kualitas gambar pada layar. TV Analog menggunakan resolusi SD. Meskipun telah ada upaya untuk mengimplementasikan HDTV untuk TV Analog, akan tetapi persyaratan dalam hal bandwidth yang terlalu besar sehingga tidak mungkin diterapkan.
C. Perbedaan Produksi Televisi Digital dan Televisi Analog
Perangkat TV Analog menggunakan tabung katoda sebagai display, sementara TV Digital menggunakan panel layar datar seperti LCD, plasma, atau LED. Akibatnya, TV Analog cenderung lebih besar dan tebal dibandingkan dengan TV Digital. TV Analog juga mengonsumsi daya yang lebih banyak dibandingkan dengan TV Digital.Resolusi perangkat TV Digital bisa diatur di angka 480p (SD = Standar Definition) atau bahkan di 780p atau 1080i / p yang dikenal sebagai HD atau high definition. HD memungkinkan untuk meningkatkan ukuran TV tanpa mengorbankan kualitas gambar pada layar. TV Analog menggunakan resolusi SD. Meskipun telah ada upaya untuk mengimplementasikan HDTV untuk TV Analog, akan tetapi persyaratan dalam hal bandwidth yang terlalu besar sehingga tidak mungkin diterapkan.
3.2 Produksi, Distribusi, dan Penerimaan Televisi
Analog & Digital
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar.
Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum
gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday
(1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
1. Jenis-Jenis Penerima Televisi
Pada dasarnya, sistem penerima televisi terbagi menjadi
dua, yaitu:
-Televisi Hitam Putih
Pada televisi hitam puth gambar tidak dapat dilihat
sesuai dengan warna aslinya. Apapun yang terlihat dilayar kaca hanya tampak
warna hitam dan putih. Hal ini sangat berbeda dengan televisi warna, yakni
warna gambar yang tampil di layar akan terlihat menyerupai aslinya.
- Televisi Warna
Gambar yang kita lihat di layar televisi adalah hasil
produksi dari sebuah kamera. Objek gambar yang ditangkap lensa kamera akan
dipisahkan menjadi tiga warna dasar, yaitu merah (R= red), hijau (G=green), dan
biru (B=blue).
Hasil pemisahan ini akan dipancarkan oleh pemancar
televisi. Pemancar televisi warna memancarkan sinyal-sinyal:
·
Audio (suara)
·
Luminasi (kecerahan gambar)
·
Krominasi (warna)
·
Sinkronisasi (vertikal / horizontal)
·
Burst
Pada pesawat penerima televisi warna, semua warna alamiah
yang telah dipisah ke dalam warna dasar red, green, dan blue akan dicampur
kembali pada rangkaian matriks warna untuk menghasilkan sinyal luminasi Y dan
dua sinyal krominansi, yaitu V dan U. Selain gambar, pemancar televisi juga
membawa sinyal suara yang ditransmisikan bersama sinyal gambar dalam modulasi
frekuensi (FM) untuk menghindari derau (noise) dn interferensi. Untuk
memancarkan sinyal ini, pada pemancar dan penerima harus memiliki sistem warna
dan suara yang sama.
2. Sinyal Pada Televisi Analog dan Digital
Pada televisi analog sinyalnya adalah analog dengan
frekuensi 6 MHz membawa informasi intensitas dan warna untuk setiap garisnya.
Sinyal TV analog di Amerika memiliki 525 garis scanning (scan line) untuk
citra, dan setiap frame direfresh setiap sepertiga puluh detik. Resolusi
mendatar pada televisi analog sekitar 500 titik. Tingkat resolusi ini sangat
hebat pada 50 tahun lalu, tapi pada masa modern ini sudah ketinggalan zaman.
Ada beberapa kelas televisi digital. HDTV merupakan TV digital yang paling
tinggi resolusi digitalnya. HDTV juga memiliki suara surround Dolby Digital
(AC-3). Hasilnya gambar dan suaranya mempesona. TV analog yang berstandar NTSC
di Amerika memiliki 525 garis scanning (di Eropa 625 garis scanning), yang umumnya
terlihat hanya 480 garis scanning.
-Prinsip Kerja Televisi
Pesawat televisi akan mengubah sinyal listrik yang
diterima menjadi objek gambar utuh sesuai dengan objek yang ditransmisikan.
Pada televisi hitam putih, gambar yang diproduksi akan membentuk warna gambar
hitam dan putih dengan bayangan abu-abu. Kemudian pada pesawat televisi warna,
semua warna alamiah yang telah dipisah ke dalam warna dasar red, green, dan
blue akan disatukan/dicampurkan kembali pada rangkaian matriks warna untuk
menghasilkan sinyal luminasi.
-Sistem Pengiriman
Pada sistem radio kita hanya berurusan dengan satu sinyal
yaitu sinyal audio berupa percakapan, musik, dan bunyi-bunyi lainnya. Sedangkan
pada sistem televisi situasinya lebih rumit. Ini dikarenakan dibutuhkan sejumlah
sinyal terpisah untuk memancarkan sinyal gambar/video dan sinyal suara/audio
dalam waktu bersamaan (sychronize). Gambar ditangkap oleh kamera dan diubah ke
dalam bentuk sinyal-sinyal listrik mengikuti terang-gelapnya gambar.
-Sistem Penerimaan
Pada penerima sinyal gambar diperkuat dan disinkronkan
sehingga reproduksi gambar aslinya dapat diproyeksikan dan dilihat pada layar.
Pada gambar, seksi suara/audio tidak disertakan untuk penyederhanaan gambar.
-Scanning Gambar
Pada proses scanning gambar, layar televisi hitam putih
dilapisi dengan fosfor putih dan berkas elektron mewarnai gambar pada layar
saat berkas elektron menumbuk fosfor. Rangkaian elektronik yang berada di dalam
televisi menggunakan kumparan yang bersifat magnetik untuk menggerakkan berkas
elektron dalam suatu pola scan raster dan menuruni layar. Berkas elektron
melintasi layar dari kiri ke kanan, dengan cepat melayang kembali ke sisi kiri,
menuruni layar secara perlahan. Pada saat berkas mencapai di dasar sisi sebelah
kanan, akan bergerak kembali ke sudut kiri atas layar. Ketika lukisan berkas
cahaya melenting kembali, tidak meninggalkan bekas pada layar. Istilah
horizontal retrace digunakan sebagai acuan berkas yang bergerak kembali ke kiri
pada setiap ujung garis, sedangkan istilah vertical retrace sebagai acuan
gerakan dari dasar ke puncak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar